sebutlah
seorang pria yang memilih hidup dalam cangkang yang dibangunnya
sendiri. Mengikat hati dan menutup pintunya bagi orang lain. Entah telah
berapa lama ia begitu.
Tiba-tiba hadir sosok yang mampu mengetuk pintu itu, tanpa peringatan
sebelumnya. Gerak-gerik aneh di bawah jendela yang mambangkitkan rasa
ingin tahu si pria. Ketika mereka telah bertatap muka, si pria semakin
yakin bahwa wanita di hadapannya ini memang aneh. Ia tidak berbicara
sepatah pun. Hanya bergerak kesana kemari, lalu bergaya seolah memotret
si pria padahal tak ada kamera di tangannya, dan menunjukkan hasil
"jepretannya" itu.
Si pria pun berlalu, ingin masuk kembali ke dalam cangkangnya yg
nyaman. Namun lelaki itu tidak menyerah begitu saja. Tanpa lelah
mengejar, bahkan ia bawakan layang-layang cantik untuknya. Seperti batu
yang retak oleh tetesan air, cangkang keras si gadis mulai meleleh.
Perlahan ia membuka pintu hati dan menyambut ajakan lelaki itu untuk
bermain.
Dunia baru ini begitu melenakan si pria, ia bahagia! Bahkan hingga saat
sang wanita mengungkapkan perasaan cintanya (tentu bukan dengan
kata-kata), ia menyambutnya dengan suka cita malu-malu. Begitulah,
hari-hari indah itu terus berlanjut, mereka berbagi kebahagiaan bersama
dalam bahasa tubuh saling memahami satu sama lain.
Sampailah pada suatu momen si pria mengundang sang pujaan hati untuk
bersantap bersama seperti layaknya pasangan kekasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar